Friday, December 17, 2010

Mengendalikan Rasa Marah






Mengendalikan Rasa Marah“Kasihan ……..” itulah perasaan kita ketika merenungkan nasib Lilis, wanita setengah baya yang ditinggal mati suaminya. Lilis merasakan kepedihan dan kesepian karena kematian suaminya, ia kecewa dan sangat marah kepada teman-temannya dan menuduh bahwa mereka telah meninggalkannya saat ia butuh mereka bahkan Lilis beranggapan bahwa teman-temannya memiliki andil atas kematian suaminya.




Pernahkan Anda merasa kecewa dan marah kepada teman-teman karena merasa ditinggalkan ?

Banyak hal yang dapat membuat kita marah dalam menjalani rutinitas kehidupan terlebih pada kondisi saat ini dimana sifat individualistis begitu menonjol, lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri dan tidak peka terhadap perasaan dan kepentingan orang lain. Sebenarnya rasa marah adalah hal yang biasa, yang terpenting bukan bagaimana menghindari rasa marah melainkan bagaimana kita mengendalikannya. Marah yang terpendam dapat menimbulkan dendam sehingga mengganggu bahkan meracuni pikiran dan hati kita bahkan terkadang mengakibatkan sulit tidur dan pada gilirannya akan mempengaruhi kesehatan baik secara pisik maupun psikologis. Kita perlu mengendalikan rasa marah dan belajar untuk melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain kepada kita.

Ketika menghadapi situasi yang menyebalkan kita merasa marah, ada baiknya untuk tahu caranya mengungkapkan kemarahan kita tanpa dengan ucapan bernada menyerang. Ada perbedaan yang mendasar bila kita marah dengan mengucapkan : 





“Dasar Goblok” ! atau “Otak Udang” ! 

dan memberitahukan bahwa kita marah dengan mengucapkan : 




“saya kecewa dengan hasil kerja anda” ataupun “saya menyesal telah mempercayai Anda”.


Bisanya kata-kata yang bernada kasar dan menyerang cenderung akan menimbulkan perlawanan, sedangkan jika sekedar menyampaikan perasaan marah, biasanya lebih dapat diterima.

Hampir semua orang pernah mengalami marah tetapi yang terpenting bukan menghindari rasa marah itu sendiri tetapi sewaktu marah kita harus mempunyai alasan yang benar, bukan semata-mata karena merasa harga diri terusik atau karena kelemahan manusiawi lainnya. Sehingga kita bisa mengendalikan rasa marah dan mengungkapkannya secara baik dan benar.


seorang penulias handal, karya oleh  Johnson Manurung

No comments:

Post a Comment