Monday, December 20, 2010

Happy Mother's Day Atau Hari Ibu [22 desember 2010]



Apa yang Anda pikirkan ketika hari Ibu sudah dekat? Apa yang akan Anda berikan sebagai balas tanda jasa kepada seorang Ibu? Ibu begitu dekat dengan anaknya, bagaimanapun seorang Ibu dia tetaplah seorang Ibu yang pemberani. Seorang Ibu yang mempertaruhkan jiwanya untuk melahirkan anaknya, seorang Ibu yang rela meninggalkan pekerjaannya demi seorang anak yang selalu menangis, seorang Ibu yang tanpa pamrih membesarkan anaknya dengan kasih sayangnya yang tulus tanpa harus mengeluh dengan semua rutinitasnya. Sadarkah kita akan semua itu? Dia begitu tulus menyayangi kita, apa tidak ada dibenak Anda untuk memberikannya sebuah kebahagiaan? Dengan tidak memakinya, dengan memperhatikannya, dengan itupun seorang Ibu takkan meminta apa-apa. Karena tidak ada lagi yang lebih berharga dari anaknya. Tidak perlu memberikannya sebuah perhiasan mewah jikalau anaknya tidak pernah memperhatikan Ibunya, hati Ibunya takkan pernah merasa bahagia bagaimana yang dirasakan anaknya. Karena yang dibutuhkan adalah sebuah kepercayaan yang diberikan anaknya untuk seorang Ibu, disaat renta usia hampir merenggut seorang Ibu, disaat itulah waktu yang tepat untuk memberikannya sebuah kepercayaan (perhatian) sayangi beliau, rawat beliau, antar beliau, dan ketika kau keluar untuk sekedar berbelanja, air mata Ibu akan mengalir tanpa henti sebagai tanda bahwa beliau bahagia :')

Apa Anda tahu makna dari sebuah hari Ibu yang dirayakan hanya setiap tahun dan setiap tanggal 22?


Sejarah ditetapkannya Hari Ibu tidak terlepas dari Kongress Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Kaum perempuan Indonesia terpanggil untuk ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 22 Desember 1928 diadakan Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Dari kongres yang pertama ini, tumbuh kesadaran bahwa perjuangan kaum perempuan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Untuk mewadahi perjuangan itu, maka dibentuklah sebuah federasi yang mandiri dengan nama Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) yang kemudian berubah nama pada tahun 1929 menjadi Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII).
Sampai pada tahun 1935 federasi ini sudah menunjukan kiprahnya secara luas. Diantaranya ikut serta dalam Badan Pemberantasan Buta Huruf dan Badan Perdagangan Perempuan dan Anak. Pada jaman itu, memang sering terjadi kawin paksaburuh diupah murahperdagangan perempuan dan masih sedikit sekali perempuan yang berpendidikan. Dan hal inilah yang menjadi titik berat dalam memperjuangkan nasib perempuan. Di tahun yang sama federasi ini menggelar kembali kongres, dan membuahkan sebuah pernyataan penting bahwa PPII “Mewujudkan Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa“.
Di balik pernyataan ini telah muncul kesadaran mendalam mengenai kehidupan berbangsa pada perempuan. Ibu bangsa mengandung arti bahwa perempuan bukan hanya punya peran domestik dan sosial, tetapi perempuan punya peran politik yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi yang utuh.
Pada tahun 1938 kembali digelar sebuah kongres dan diputuskan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu dengan moto “Merdeka Melaksanakan Dharma”.
Ada dua hal yang dapat kita simak dari keputusan kongres tersebut.
Yang pertama Hari Ibu dijadikan momentum untuk menyadarkan kembali tanggung jawab perempuan terhadap masyarakat dan keluarga.
Dan yang kedua federasi ini menyerukan kaum perempuan untuk bersatu dalam melawan penjajahan.
Dinamakan hari Ibu dan bukan hari perempuan, karena Ibu berarti sosok yang menumbuhkan dan mendidikan generasi. Perempuan bukan hanya ibu bagi anak-anaknya tapi ibu bagi bangsanya. Hal ini sejalan dengan deklarasi politiknya. Hari Ibu di Indonesia sangat mengagumkan! Bila kita berpikir sejenak, makna dari Hari Ibu Indonesia sangat dalam.

Lalu apakah berbeda dengan Happy Mother's Day?
Iya, Jika Mother’s Day ala barat memberikan penghargaan prestasi domestik, Hari Ibu Indonesia lebih luas dari ituTidak cukup hanya prestasi domestik, tapi yang diserukan adalah prestasi mendidik generasi! Belajar dari Sejarah Sungguh menakjubkan menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan memperjuangkan kemerdekaan.
Melihat kiprah PPII, kita bisa mengetahui nafas pergerakan ini sejak awal adalah politik dalam rangka memajukan dan melindungi perempuan dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Dalam memajukan kaum perempuan, PPII turut memperjuangkan kesetaraan gender. Mereka memperjuangkan nasib kaum perempuan sebagai kaum yang tertindas, dimana hak-hak asasi perempuan dilecehkan. Bila pada jaman sekarang kaum perempuan hanya peduli pada dirinya sendiri, rasa-rasanya sangat naif. Sebab, sekelompok kaum perempuan Indonesia pada tahun 1935 sudah peduli terhadap nasib kaumnya. Mereka juga yakin dengan pendidikan dapat merubah nasib kaum perempuan.
Di jaman dulu, ketika pendidikan menjadi hal yang mewah bagi perempuan, kini kesempatan menimba ilmu terbuka selebar-lebarnya. Sungguh ironi ketika jalan terbentang luas, perempuan di jaman sekarang, enggan mengambil kesempatan itu. Kaum perempuan yang bergabung dalam PPII sudah memiliki pandangan jauh ke depan. Mereka memandang sosok perempuan tidak hanya dalam ruang lingkup kecil rumah tangganya. Tapi jauh lebih luas dari itu, mereka memandang perempuan sebagai sosok yang mampu merubah nasib bangsa.
Itulah yang mendasari semangat Hari Ibu 22 Desember bukan hanya menjadi ibu bagi anak-anaknya tapi menjadi ibu bagi bangsa.

Sungguh besar rasa peduli mereka terhadap perubahan nasib bangsa. Makna sejati dari perjuangan politik telah dicontohkan PPII: berpikir untuk kelangsungan masyarakat, bangsa secara luas dan bukan berpikir hanya untuk diri sendiri.
Gerakan dimulai dari perubahan individu, dengan cara menyadarkan kaum perempuan akan potensinya yang besar. Agar perempuan sadar, ia harus terbebas dari tekanan yang menghimpit, dimulailah perjuangan memberantas penindasan kaum perempuan. Selain itu kaum perempuan juga harus mendapat pendidikan, pintu wawasan dibuka dengan memberantas buta huruf. Setelah perbaikan individu, tahap berikutnya adalah perbaikan keluarga, masyarakat dan negara. Hal ini tersirat dari semangat mewujudkan perempuan sebagai Ibu Bangsa. Dari kumpulan sosok-sosok perempuan bisa terbentuk kekuatan salah satu sayap penentu perubah bangsa. PPII juga telah membuktikan bahwa mereka adalah kumpulan perempuan yang tidak mudah pasrah dengan keadaan. Mereka adalah kumpulan perempuan yang berusaha merubah nasib bangsa.
Perolehan kemerdekaan bangsa Indonesia membuktikan adanya perjuangan keras untuk merubah nasib. Perubahan itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Tanyakanlah pada diri kita masing-masing apa yang telah kita perbuat untuk merubah nasib bangsa! Perempuan adalah separuh dari masyarakat. Bila perempuan tidak berfungsi, maka tidak berfungsi juga separuh dari masyarakat!
:lovekiss:Selamat Hari Ibu se–Indonesia 22 Desember 2010 :lovekiss:

No comments:

Post a Comment